Senyum Terakhir, Disaat Kau Ingin Pergi Selamanya

Disaat semua telah kutulis diatas secarik surat putih, mungkin ini surat terakhir yang bisa ku berikan, mungkin Tuhan menyaksikan semua penderitaan luka yang ku alami semenjak kau pergi. Bersama langit fajar, burung burung yang menghinggapi pohon tua di pagi hari, hingga menjelang malam, yang tak pernah ramai oleh gelak tawamu dan decak senyum bibir manismu. Dimana hanya ada rangkaian bintang bintang, dan angin malam yang sedikit dingin tanpa selendang hijau tua yang selalu kau bawa untuk menemani kebersamaan kecil ini. Harapanku seakan telah pupus oleh alam semesta, yang mencoba membuatnya tetap hidup walau lentera duka memaksanya untuk hilang.

Di bawah langit malam, telah ku relakan semua mimpi dan harapan kecil kita untuk selamanya kandas. Tanpa ku sadari, memang terlalu sulit melahirkan sebuah momen istimewa yang tak bisa kau nilai, atau di sisi lain kau hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Bangunlah dari lelap tidurmu, jika momen tersebut dapat muncul seketika diatas angan yang ku anggap telah hilang, dan biarkan dunia dan alam semesta memutuskan apakah kau akan selamanya hilang atau kembali dalam ingatan burukku.

Sebuah momen, dimana dunia akan mempersatukan dua manusia bodoh yang ingin mempersatukan cinta lamanya, atau dunia lebih memilih cinta tersebut kelam dan hanyut dalam laut cinta. Jika kau ingin pergi meninggalkanku, jangan kau rebut bahagiaku, cukup ambil luka yang ku alami agar aku dapat sedikit sembuh. Dan lengkungkan senyum indah di bibir manismu, disaat dunia lebih memilih kau pergi untuk selamanya …

Kehilangan, Yang Mencumbu Malam

Memandangi langit malam, bersama bintang dan bulan, senantiasa menemani jauhnya malam pada setangkup jenjang perpisahan. Meskipun cuma aku yang berdiri dan menyimak sepinya sebuah malam di sudut kaca, yang berusaha melepaskan ikatan rindu yang menyelip di antara hati dan jantung, berharap kau telah pergi membawa selendang putih dengan kenangan yang telah lama kau nantikan. Walau sebenarnya diriku terlalu lemah, jika harus menatap indahnya malam, bersama decitan nada kebahagiaan, yang selalu membuatku harus tersiksa, tanpa kau harus tahu itu semua adalah hal yang terlalu tua untuk terwujud dalam selembar kenangan lama.

Indahnya malam tak membuatku semakin gusar melaluinya, meskipun menatap hari demi hari yang selalu merasa hening dalam jiwa jiwa yang kesepian. Mungkin bagiku, tak layak jika seorang perempuan yang menemani hidupnya dalam kenangan yang membuatnya menebar riuh dan menganggap semuanya rahasia dibalik sebuah peristiwa. Jangan kembali kau risaukan aku, yang seolah olah telah gagal mencintaimu, dalam dunia yang penuh dengan keistimewaan, dan sebuah harapan yang saling beradu dengan pelampiasan rasa hampa, mencoba untuk saling menghancurkan satu sama lain.

Kehilangan sebuah cinta, yang membuatnya benci dengan dunia, disaat alam semesta menakdirkan itu semua dalam skenario kehidupan. Melepaskan memang terlalu sulit jika dipaksakan dengan senyuman, namun semuanya telah tinggal sisa sisa rindu yang membuatnya hening dalam kesendirian. Disaat malam ingin berakhir, mungkin kehilangan adalah pelampiasan dimana malam bercumbu dengan harapan yang menjadikan itu semua dalam angan semu …

Hapus Air Matamu, Dan Lupakan Mimpi-Mimpinya

Disaat kau kembali, dan mengenang cinta lama tersebut, sungguh batin ini merindukan gelak tawamu, duniaku yang penuh dengan gemerlap cinta kita, dan bait-bait sebuah mimpi mimpi yang baru saja kau lumpuhkan. Tak peduli seberapa jauh kau melangkah menjauhiku, namun sungguh, dunia ini pun rindu akan cumbuan manismu, demi menunda cinta kita agar tak begitu gampangnya menghilang. Disaat jiwaku telah tersayat pisau rindu, dan jiwamu pun terasa sangat letih, yang mencoba bertahan untuk mengalahkan sepi, meskipun jiwa ini selalu menepi, dan membunuh rindu tersebut.

Disaaat kau lupa bagaimana caranya untuk tetap bertahan, seakan akan mimpi mimpi itu pun selalu tergoyahkan oleh perpisahan, yang pada akhirnya harus berantakan oleh air mata. Memang, tak semudah membuang kulit kacang, jika ingin melupakan sebuah mimpi-mimpi lama yang selalu bertahan di relung lelapmu. Fajar pun tak ingin mau kalah dengan senja, seperti luka ini yang tak mau mengalah oleh rasa perih yang pernah kau torehkan, dan dimana waktu yang mengutik jelas tentang sebuah mimpi.

Jika memang mimpi tersebut telah bosan, jika harus bergulat dengan luka lamamu, pergilah bersamanya dan bahagialah jika memang Tuhan memang merelakan untuk menghapus semua kenangannya. Disaat semua telah berakhir, Hapuslah air matamu, dan lupakan semua mimpi-mimpinya …

Cinta Terbaikpun Pantas Untuk Terbagi

Di suatu malam yang sangat gelap, hanya ada siluet yang menerangi dari sudut sudut kaca, angin yang berlalu lalang, disaat mataku telah dibutakan oleh kebahagiaan. Aku yang setiap detiknya, hanya berguna untuk kau tinggalkan dengan meninggalkan bekas kenangan kecil, yang tak terlalu bernilai apa apa dimatamu. Mungkin semua manusia berhak mendapatkan cintanya masing masing, meskipun harus berakhir dengan kesendirian, yang membutakan kebersamaan, lalu tersiksa disetiap detiknya oleh luka. Diatas kesendirianku, mungkin kau dapat tertawa kecil, menikmati kebersamaan, dan ku anggap kau telah menang untuk membuatku menunggu di depan pintu, dan menanti dirimu yang tak pernah mau kembali.

Detik kian berlalu, menit kian berganti, namun kau tak juga ingin kembali, mungkin kau hanya membodohi diriku, untuk membuat fikiran ini membeku, dan kau hanya menikmati sisa sisa keramaian, tanpa ingin pelukan hangat yang ku ciptakan malam itu. Seorang wanita, yang mencoba menghapus cintanya setiap butir yang tersisa, dan kenangan lama yang pernah kau nikmati bersamaku. Disatu waktu yang tak berubah, mencoba menjamah sisa kenangan yang berusaha ku rindukan, demi membalut sebuah luka.

Apakah rindu, dan luka ini dapat sembuh, meskipun dalam waktu yang sangat lama. Cinta yang dulu pernah bersatu begitu erat, namun hal yang lain memisahkannya, yang membuatnya tak kembali, dan lebih memilih hal tersebut sebagai kebahagiaan yang telah mengganti cinta lamanya. Apakah cinta ini dapat kembali, atau lebih pantas untuk terbagi ? …

Dibalik Sepi Yang Menghias Senja

Diatas kursi taman yang berkarat oleh hujan, hirup aroma kebahagiaan yang kuberikan untukmu, memandangi senja yang telah menelan matahari, ketika rinduku yang telah terbunuh oleh jarak, mungkin kau masih memimpikan kenangan yang kau torehkan dibawah senja untukku semalam penuh. Jika ku ingat, pelukmu yang menemaniku dalam kesendirian, dan kecupan bibir manisku yang membuat dinginnya kenangan kita, seolah olah kenangan ini telah membeku dalam indahnya mimpi yang telah kau anggap hilang.

Mungkinkah kau akan membiarkan diriku terlelap dalam kesendirian. Apa kau tak ingin semua kenangan indah kita kembali utuh ? Disaat waktu terus berlalu, senja kian berganti, hujan yang membasahiku, dan kursi taman yang telah lama kau tinggalkan, seakan akan rindu dengan kebersamaan yang pernah kita lalui. Sepi pun dapat membunuh suatu angan yang telah ku raih, demi mengenang dirimu yang telah pergi untuk yang sekian kalinya.

Kembalilah padaku, temani aku dalam kesendrianku, hanya membuatku menghapus rinduku yang telah lama membeku. Senja tak akan membiarkan kita terpisah, dan sepi tak akan membuat kenangan semakin rapuh. Akan ku hirup aroma kebahagiaan, yang kau berikan padaku dalam mimpi, meskipun itu semua hanyalah harapan semu …